Ngaji Kitab Klasik dan Publikasikan Ratusan Kitab Kuning

DSC00292SEPINTAS keberadaan Ponpes Hidayatut Tulab di Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri barangkali tak beda jauh dengan pesantren lain yang bertebaran di Kediri dan Jawa Timur pada umumnya. Hanya, yang sedikit beda, inilah mungkin salah satu pesantren yang hingga kini tetap setia ngaji klasik.

Dari bawah keremangan cahaya mentari yang mulai menyembul, samar-samar terlihat belasan santri menulis huruf Arab kecil-kecil di bawah setiap kata yang tertera dalam kitab kuning, di lantai dua Ponpes Hidayatut Tulab. Sesekali mereka tertinggal satu sampai dua kata saat membubuhkan makna harfiah lantaran cepatnya bacaan sang kiai yang memimpin pengajian Subuh itu. Sepintas lalu huruf Arab berukuran kecil yang dituliskan para santri di sela-sela dan di bawah kata-kata dalam kitab kuning itu berupa kode untuk melambangkan kedudukannya sesuai dengan Tata Bahasa Arab. Namun ada juga huruf Arab yang ditulis dengan tinta Cina bermata kecil itu adalah Bahasa Jawa atau biasa disebut dengan Huruf Pegon (Bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf Arab). Sang kiai itu pun menutup pengajian tanpa memberikan keterangan mengenai isi yang terkandung dalam kitab kuning tersebut. Model pengajian seperti inilah yang biasa dilakukan oleh kiai di Pondok Pesantren Hidayatut Thullab, Dusun Petuk, Desa Poh Rubuh, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Kiai pondok pesantren salaf itu memang masih setia dengan kurikulum pendidikan klasik (sorogan) dalam mengaji kitab-kitab kuning kepada para santrinya. Sejak tahun 1993, pondok ini sudah mempublikasikan 115 judul kitab kuning dilengkapi dengan makna berbahasa Jawa. Pemberian makna sempit pada setiap kata dalam 115 judul kitab kuning itu telah dicetak secara massal oleh Koperasi Ponpes Hidayatut Thullab dan didistribusikan seantero Nusantara. Kalau dihitung harian, rata-rata omzet kami bisa mencapai Rp 1 juta. Tapi pada bulan Ramadhan bisa mencapai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta per hari karena banyaknya pondok pesantren yang menggelar pengajian kilatan, kata Ketua Koperasi Ponpes Hidayatut Tulab, Ruslin Nafi uddin. Selain Bahasa Jawa, pengkajian kitab kuning juga dilakukan dengan menggunakan Bahasa Sunda, seperti dilakukan Ponpes Cipasung Tasikmalaya, Ponpes Manonjaya Ciamis, dan sejumlah ponpes salaf lainnya di Jawa Barat. Kalimat Bahasa Arab yang ada di dalam kitab kuning bisa juga dibubuhi makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Madura, seperti di Ponpes Syaichona Cholil Bangkalan dan ponpes salaf lainnya di Pulau Madura dan sebagian kawasan Tapal Kuda di Jawa Timur. Lalu, mengapa tidak ada yang memberikan makna harfiah dengan menggunakan Bahasa Indonesia? Sepertinya kosa kata Bahasa Indonesia itu tidak sekaya Bahasa Jawa sehingga sampai sekarang belum ada orang yang memberikan makna kitab kuning dengan Bahasa Indonesia, tandas Pengasuh Ponpes Hidayatut Tulab, KH Achmad Yasin Asmuni. Ia kemudian menjelaskan, untuk menunjuk kata di dalam kitab kuning yang berkedudukan sebagai mubtada (subyek), para santri membubuhinya dengan huruf Arab mim atau diterjemahkan sebagai utawi dalam Bahasa Jawa. Saya sendiri belum pernah tahu, apa artinya utawi itu di dalam Bahasa Indonesia karena utawi berbeda dengan atau. Ini baru hal yang paling mendasar dalam mengaji kitab kuning, belum lagi yang mendalam, terang dia. Oleh sebab itu, Kiai Yasin menambahkan, hal ini merupakan tantangan bagi para akademisi dan pakar Bahasa Indonesia untuk meneliti lebih jauh mengenai kemungkinan penggunaan Bahasa Indonesia dalam memberikan makna harfiah pada sejumlah kitab kuning. Apalagi santri-santri yang belajar kitab kuning di sejumlah ponpes salaf tidak hanya berasal dari Jawa, Sunda, atau Madura. Oleh sebab itu, beberapa santri asal luar Pulau Jawa yang belajar di ponpes salaf di Jawa terpaksa harus belajar Bahasa Jawa terlebih dulu. (As ad An-Nawawi)

One thought on “Ngaji Kitab Klasik dan Publikasikan Ratusan Kitab Kuning

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *